Petir, berkah atau musibah ?
Petir adalah salah satau fenomena kelistrikan udara di alam. Indonesia
terletak di daerah khatulistiwa yang panas dan lembab, mengakibatkan
terjadinya hari guruh (IKL=isokronic Level) yang sangat tinggi dibanding
daerah lainnya (100-200 hari pertahun), bahkan daerah Cibinong sempat
tercatat pada Guiness Book of Record 1988, dengan jumlah 322 petir
pertahun. Kerapatan petir di Indonesia
juga sangat besar yaitu 12/km2/tahun yang berarti setiap luas area 1
km2 berpotensi menerima sambaran petir sebanyak 12 kali setiap tahunnya.
Energi yang dihasilkan oleh satu sambaran petir mencapai 55 kwhours.
Seperti kita ketahui Indonesia
terletak pada daerah tropis dengan tingkat resiko kerusakan yang cukup
tinggi dibandingkan daerah subtropis karena jumlah sambaran petir
didaerah tropis jauh lebih banyak dan lebih rapat. Semakin hari semakin
besar jumlah kerusakan yang ditimbulkan, karena semakin banyaknya
pemakaian komponen elektronik oleh masyarakat luas dan industri.
Sayang, Indonesia belum memiliki kesadaran betapa berbahayanya petir bagi umat manusia. Atau, bisa jadi, Indonesia belum mendata kerugian akibat petir. Yang jelas, mengutip dari Badan Pemadam Kebakaran Austria,
kerugian karena sambaran petir tiap tahun cenderung naik. Jika tahun
1981 kerugian akibat sambaran langsung berjumlah 34 dengan nilai
kerugian dalam 1.000 OS (setara Rp 9.000,-) sebesar 7.490 dan sambaran
tidak langsung berjumlah 16.049 dengan nilai kerugian dalam 1.000 OS
sebesar 27.677, maka satu dekade kemudian meningkat menjadi 59 dengan
nilai 12.219 (sambaran langsung) dan 25.685 dengan nilai sebesar 75.016.
Sementara
di Jerman, statistik kerusakan akibat sambaran petir (28,7%) jauh di
atas bencana alam lainnya seperti banjir (7,1%), kebakaran (6,5%), atau
badai yang cuma 0,6%.
Induksi lebih berbahaya
Tentu saja petir tidak bisa dianggap musibah, sebab petir merupakan bagian dari sirkuit global.
“Bumi
itu mirip kapasitor. Antara ionosfer dan Bumi, jika langit cerah, ada
arus listrik yang berasal dari ionosfer (bermuatan positif) ke Bumi yang
bermuatan negatif. Arus ini mengalir terus,” kata Zorro.
Anehnya,
Bumi tidak terbakar juga. Ternyata ada awan petir, yang menjadi
penyeimbang, karena bermuatan positif dan negatif. “Yang positif turun
ke Bumi, yang negatif naik ke ionosfer,” tambah Zoro.
Selain
itu, petir merupakan suatu proses alam penyebab fiksasi nitrogen yang
menghasilkan unsur nitrogen. Nitrogen sangat penting artinya bagi
tumbuhnya pohon dan mengisi sekitar 4/5 atmosfer Bumi. Setiap tahunnya petir menyumbang 10 juta ton nitrogen!
Namun,
tidak semua awan adalah awan petir. Hanya awan cumolo nimbus yang bisa
menghasilkan petir. Petir terjadi karena pelepasan muatan listrik dari
satu awan cumolo nimbus ke awan lainnya, atau dari sebuah awan langsung
menuju Bumi. Yang terakhir inilah yang akan membawa malapetaka.
Bayangkan saja jika muatan yang dibawanya dalam sepersekian detik bisa
mencapai sebesar 100 juta volt. Bandingkan dengan kursi listrik untuk
mengeksekusi penjahat, yang hanya bermuatan ribuan volt.
Selain
mengalirkan arus impulsnya ke tanah (sambaran langsung), petir juga
memancarkan energinya berupa gelombang elektromagnetik atau lightning
electromagnetic pulse (sambaran tidak langsung). Dengan berkembang
pesatnya peralatan elektronika dan mikroelektronika beberapa dekade
terakhir ini, sambaran tidak langsung menjadi momok yang menakutkan
meski mengenai tempat yang jauh (sampai 2 km). Ketakutan itu karena radiasi, induksi, dan konduksi dari gelombang elektromagnetik tadi.
Kerusakan
instalasi komputer di Koln, Jerman, pada tahun 1989 bisa menjadi
ilustrasi. Sebuah gedung tersambar petir. Sekitar 100 m dari situ
terdapat gedung komputer. Akibat kenaikan tegangan yang disebabkan oleh
sambaran petir tersebut, komputer menjadi rusak. Biaya perbaikan
perangkat komputer menelan Rp 1 miliar, tetapi kerugian karena tidak
bekerjanya komputer mencapai Rp 4 miliar.
Untuk
mengatasi hal tersebut, infrastruktur yang membutuhkan tenaga listrik,
telekomunikasi, dan proses data (seperti komputer dan sistem informasi)
perlu diberi proteksi (lightning protection system, LPS). Selain itu
juga semakin perlu sistem pelacak petir (lightning position &
tracking system, LPATS)
Mahal, tapi ingat manfaatnya
Tempat-tempat
dengan tingkat sambaran tinggi (baik frekuensi maupun intensitasnya)
perlu mendapat prioritas pertama dalam penanggulangannya. Demikian pula
dengan lokasi yang bernilai bisnis tinggi (industri kimia, pemancar TV,
Telkom, atau industri strategis seperti hankam dan pelabuhan udara)
memerlukan proteksi seoptimal mungkin. Ingat kasus sambaran petir di
kilang minyak Cilacap tahun 1998 yang menimbulkan kebakaran berhari-hari
serta menghanguskan sebagian besar peralatannya, sehingga menghentikan
proses pengilangan?
Pemakaian
penangkal petir tradisional (eksternal) sudah dikenal sejak dulu untuk
melindungi bangunan atau instalasi terhadap sambaran petir. Sayangnya,
sistem proteksi ini hanya bisa melindungi bangunan dari kebakaran atau
kehancuran. Ancaman induksi tegangan lebih atau arus lebih belum
terserap sepenuhnya. Padahal, induksi ini tak kalah berbahayanya,
terutama terhadap peralatan elektronik yang cukup sensitif dan mahal
harganya. Di situlah peran proteksi internal.
Proteksi internal berarti proteksi peralatan elektronik terhadap efek dari arus petir. Utamanya efek medan magnet dan medan
listrik pada instalasi metal atau sistem listrik. Berhubung rumah
tangga sekarang ini sudah tak bisa lepas dari peralatan elektronik yang
sensitif, maka proteksi internal sudah waktunya dipasang.
Zoro
pernah menyaksikan demo tentang pentingnya proteksi internal pada rumah
tangga. Ada pesawat TV yang tidak dipasangi alat proteksi internal
(arestor). Televisi diletakkan di sebuah ruangan dan di depannya ada
boneka sebagai penonton. Ketika ada sambaran petir, TV tersebut meledak.
Setelah asap akibat ledakan dikeluarkan, wajah boneka tadi penuh dengan
pecahan kaca tabung TV. “Bagus sekali demonya,” komentarnya.
Jika
ditilik dari harga, “Memang mahal.” Tapi, jika dibandingkan dengan
manfaatnya baru terasa murah. Bisa diibaratkan dengan mengambil polis
asuransi. Sekadar perkiraan, untuk proteksi internal dengan tujuan
melindungi komputer dan telepon dibutuhkan biaya sekitar Rp 2 juta.
Menghemat dengan sistem peringatan dini
Bagi
infrastruktur strategis yang rentan terhadap induksi, selain proteksi,
masih perlu dibekali dengan sistem peringatan dini. Dengan sistem ini,
kerugian bisa diminimalkan. Seorang manajer beberapa pabrik yang
berkaitan dengan listrik menyatakan bahwa perusahaannya bisa menghemat
sampai setengah juta dolar setiap tahunnya dengan memanfaatkan sistem
tersebut (Scientific American edisi Agustus 1997). Dengan informasi yang
didapatkannya, ia bisa menghentikan operasi pabriknya sehingga
terhindar dari induksi petir, misalnya.
Sebagai negara dengan hari guruh tertinggi di dunia, Indonesia
pun sudah melengkapi dengan sistem peringatan dini. Alat canggih dari
Amerika seharga sekitar Rp 15 miliar ini dimiliki oleh PT Lapi
Elpatsindo (perusahaan milik ITB).
Ketika petir menyambar Bumi, radiasinya menyebar. Receiver yang dipasang di Bumi akan menerima radiasi itu. Ada
16 receiver di seluruh Indonesia, namun baru delapan yang beroperasi.
Dari situ, tiga sensor terbaik mengirim data ke pusat (Jakarta). Real
time! Daerah yang tersambar petir bisa di-zoom sampai seluas 15 x 15 km.
Data
lain yang bisa diperoleh adalah lokasi sambaran petir, waktu terjadinya
sambaran, besarnya amplitudo arus petir dan energinya, maupun kecuraman
gelombang petir. Hanya saja, menurut Zoro, tidak semua petir direkam.
“Kalau
semua ditangkap, storage kita cepat sekali penuh. Di luar negeri,
storage penuh dalam jangka tiga bulan. Kita tiga bulan sudah penuh,”
ujar Zoro. Hanya petir di atas 7 kA yang ditangkap. Alasannya, petir di
bawah 7 kA tidak berbahaya bagi peralatan rumah. Dengan adanya
pembatasan itu, storage yang berupa optic disc bisa bertahan selama
delapan bulan.
Sistem
informasi data petir itu sangat membantu dalam menghitung kemungkinan
terjadinya sambaran dan jumlah sambaran petir (stroke probability).
Dengan menggunakan sistem komunikasi yang ada serta memanfaatkan satelit
Palapa dan GPS, setiap pemakai yang berada di seluruh kawasan Indonesia
dapat menggunakan dan memanfaatkan sistem tadi. Dengan bantuan peranti
lunak Video Information System (VIS), kita bisa menampilkan daerah
seluas 200 km2.
VIS bisa dioperasikan pada hampir semua PC. Menunya lengkap dan user friendly. Kelengkapan
ini akan memudahkan pemakai untuk membaca, menganalisis, dan
memanfaatkan data petir. Jadi, tak perlu menjadi murid Ki Ageng Selo
untuk bisa “menangkap” petir.
Sumber :
- Badan Meteorologi dan Geofisika Indonesia
- Majalah Intisari
- Analisa pengaruh induksi sambaran petir tidak langsung - Universitas Kristen Petra Surabaya
Sumber :
- Badan Meteorologi dan Geofisika Indonesia
- Majalah Intisari
- Analisa pengaruh induksi sambaran petir tidak langsung - Universitas Kristen Petra Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar